Baik bagimu, tapi belum tentu baik bagi orang lain.

Injil Ke Tanah Karo

Periode pertama (1890-1893) disebut sebagai periode Firman Tuhan disebarkan di bumi Karo. Pada tanggal 16 Nopember 1888, anggota parlemen Belanda JT. Cremer, yang kemudian menjabat menteri, telah menganjurkan Kristenisasi orang Batak Karo. Lalu Cremer, bersama zendeling Kreemer dari Jawa Timur mendatangi direksi dari beberapa perusahaan perkebunan yang berhasil diajak agar menyumbangkan dana kepada pihak NZG,[1] untuk pelaksanaan penginjilan tersebut. Pada bulan Nopember 1889 ditandatangani suatu perjanjian antara pihak NZG dengan suatu panitia Zending Batak Karo di Amsterdam (yang mewakili perusahaan), lalu diutuslah H.C. Kruyt ke Tanah Karo.[2]

Pada tanggal 18 April 1890 Pendeta H.C. Kruyt[3] bersama Nicolas Pontoh tiba di Belawan, dan melanjutkan perjalanan ke Medan. Mereka menginap beberapa malam di Medan untuk mengadakan persiapan seperlunya. Mereka mengadakan pendekatan terhadap para penguasa di daerah ini, seperti tuan Residen W.J.M. Michielson dan Tuan Carel Westenberg, kontelir khusus untuk orang Batak. Setelah meninjau lokasi di beberapa desa di sepanjang kaki Bukit Barisan maka Pdt. H.C. Kruyt menetapkan desa Buluhawar menjadi pos penginjilannya, karena desa ini berada pada jalur lalu lintas dari dan ke dataran Tinggi Karo. Desa ini menjadi desa persinggahan para pedagang yang disebut perlanja sira. Pada saat itu barang dagangan diangkut dengan pikulan melalui jalan setapak mendaki dan menuruni gunung dan lembah serta menyeberangi sungai-sungai. Perjalanan ini sangat melelahkan, karena itu mereka butuh persinggahan.

Pada tanggal 1 Juli 1890, Pdt. H.C. Kruyt menetap tinggal di Buluhawar atas bantuan pengulu Buluhawar (penduduk desa Buluhawar sekitar 200 jiwa). Dia tinggal di rumah yang sederhana. Dalam catatan harian Pdt. H.C. Kruyt rumah tersebut berada di antara 2 rumah dan tidak jauh dari kampung. Rumah tersebut disewa 16 dollar dubbeltje = 336 cent per bulan. Dia belajar bahasa Karo dan budaya Karo, dia memakai ikat kepala (erbulang), memakai kain sarung tenunan khas Karo (eruis), memakai selendang (cabin), ikut bergotong royong (aron), juga merawat orang-orang sakit. Ada sekitar 41 orang yang dia rawat, misalnya ada yang keracunan darah dan ada yang sakit borok. Dia mengunjungi orang-orang sakit dan memberinya obat. Bayarannya biasanya berbentuk ayam, beras, dan lain-lain.[4]

Dia memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk tidak mengisap candu dan tidak bermain judi. Dia juga menjelaskan perbedaan misi Kristen dengan kehadiran kolonial Belanda. Pemerintah Belanda tidak senang dengan penyuluhan yang diberikan Pdt. H.C. Kruyt tetapi pendeta ini tetap pada pendiriannya. Pemerintah Belanda berkeinginan agar Pdt. H.C. Kruyt tidak menjelaskan perbedaan Kolonial Belanda dengan misi Kristen, jangan melarang orang Karo menghisap candu dan jangan bergabung dengan tentara Aceh untuk melawan Belanda. Kemudian pada tanggal 23 Nopember sampai 3 Desember 1890 Pdt. H.C. Kruyt pergi meninjau dataran tinggi Karo. Pada tahun 1891 dia meninggalkan tugas zendeling lalu pergi ke Menado bersama Nicolas Pontoh untuk mencari tenaga pembantu untuk penginjilan. Kemudian ditemukan tenaga penginjil dan ditempatkan di 5 pos pelayanan (pada setiap pos pelayanan dibuka rumah sekolah dan poliklinik di samping pelayanan Firman), yaitu :

1. Guru Injil Benyamin Wenas di desa Salabulan.

2. Guru Injil Johan Pinotoan di desa Sibolangit.

3. Guru Injil Richard Tampenawas di desa Pernengenen.

4. Guru Injil Hendrik Pesik di desa Tanjung Beringin.

5. Pdt. H.C. Kruyt dan Nicolas Pontoh di desa Buluhawar.[5]

Pada bulan Agustus 1891 rumah zending di Buluhawar selesai dibangun. Acara masuk rumah baru tersebut memakai adat istiadat Karo, Gendang Karojuga dipakai dalam acara itu. Kemudian pada tanggal 19 Oktober 1891, Pdt. H.C. Kruyt bersama masyarakat membuka sekolah untuk belajar membaca dan menulis di Buluhawar.

Pada bulan Juli 1892 Pdt. H.C. Kruyt secara mendadak meninggalkan pelayanan di Buluhawar untuk belajar ilmu kedokteran di Swiss di daerah perbatasan Perancis. Dan akhirnya dia tinggal di Perancis hidup bersama-sama orang miskin dan melayani orang-orang miskin sampai akhirnya dia juga menjadi miskin dan Pdt. H.C. Kruyt meninggal di Paris.[6]

Pdt. H.C. Kruyt digantikan Pdt. J.K. Wijngaarden[7] yang dipindahkan dari Sawu ke Deli. Dia tiba di Belawan pada tanggal 3 Desember 1892. Tanggal 21 Desember 1892, Pdt. J.K. Wijngaarden menetap tinggal di Buluhawar bersama istrinya. Istrinya mengundang wanita Karo agar datang ke rumahnya. Di rumah dia sudah menyiapkan kampil yaitu suatu anyaman pandan yang berisi daun sirih, kapur, gambir, pinang, tembakau untuk keperluan makan sirih. Sambil makan sirih mereka mengadakan percakapan-percakapan. Pdt. J.K. Winjngaarden merawat orang sakit, menginjili, memberi pelajaran, dan mengunjungi kampung-kampung sekitarnya. Di Buluhawar istrinya melahirkan seorang anak dan dinamai Cornelius. Mereka juga mengangkat seorang anak bernama Sangap.[8]

Periode ke-dua (1893-1940) disebut sebagai periode pembaptisan orang Karo. Karena pada tanggal 20 Agustus 1893, dilaksanakan pembaptisan kepada enam orang masyarakat Karo oleh Pdt. J.K. Wijngaarden, yaitu : Ngurupi bersama anaknya Pengarapen, Nuan (akhirnya menjadi Manteri Cacar yang dinamai Bapa Tuah Barus) dan Tala serta dua orang bersaudara, Tabar dan Sampai.[9] Dan pada tanggal 4 Agustus 1894 diadakan pembaptisan kedua kepada 4 orang yaitu : Negel, Lampo, Nesei dan Sangap. Pdt. J.K. Wijngaarden meninggal pada tanggal 22 September 1894 setelah mengalami sakit perut.[10] Dan untuk sementara NZG mengirim Dina W Guittart sebagai pengganti Pdt. J.K. Wijngaarden.[11]

Rumah guru-guru Injil Minahasa selesai dibangun antara bulan Juni dan Oktober 1893, dan masing-masing mengadakan pesta masuk rumah baru. Di desa Tanjung Beringin hadir lebih dari 400 orang. Pesta masuk rumah baru ini merupakan pesta yang paling banyak dihadiri masyarakat Karo dari semua pertemuan yang dilakukan misionaris, alasannya karena ada persamaan dengan upacara Karo dan juga karena misionaris memotong seekor babi untuk menjamu semua tamu. Misionaris memanfaatkan kesempatan ini untuk mengkhotbahkan renungan singkat atau menceriterakan satu cerita, menyanyikan satu lagu, dan berdoa memohon berkat. Mereka juga juga menyewa pemusik Karo yang dimainkan untuk menari. Keluarga Pdt. J.K. Wijngaarden menghadiri pesta yang di Salabulan, tetapi pulang ke Buluhawar pada jam 5 sore supaya sampai di rumah sebelum gelap. Pesta berlangsung sampai tengah malam.[12] Kemudian pada tanggal 1 Januari 1898 dilakukan penahbisan rumah penginjil Benyamin Wenas di Bukum. Acara penahbisan ini dilakukan sesuai dengan budaya Karo yaitu acaramengket rumah mbaru (masuk rumah baru).

Pada tanggal 21 Nopember 1894 Pdt. M. Joustra[13] tiba di Medan, kemudian dia melapor ke kantor Deli Maatschappij (perusahaan yang membangun rumah Pdt. H. Guillaume, mengangkat barang-barang Pdt. J.H. Neumann dari Medan ke Buluhawar di kemudian hari).[14] Pdt. M. Joustra menetap di Buluhawar pada tanggal 13 Pebruari 1895 setelah serah terima pelayanan dengan Dina W. Guittart. Dina meninggalkan Buluhawar pada tanggal 31 Juli 1895 menuju Medan, pada saat melepas Dina, jemaat menyanyikan LaguLawes me kam mejuah-juah (Berangkatlah dengan selamat) karangan Pdt. M. Joustra (Kitab Ende-Enden GBKP Nomor 105). Dina berangkat dari Belawan menuju Belanda pada tanggal 5 September 1895. Setibanya di negeri Belanda, Dina menjadi manager asrama sekolah misi di Rotterdam.[15]

Pada akhir September 1895, seorang warga jemaat mengundang Pdt. M. Joustra untuk menanam padi di sawahnya bersama warga gereja dan anak-anak sekolah. Pendeta ini masuk ke lumpur untuk menanam padi secara beramai-ramai. Acara di akhiri dengan makan bersama dengan memakai daun pisang sebagai piringnya. Pada tanggal 3 April 1896 diadakan Perjamuan Kudus pertama di Buluhawar yang dilayani oleh Pdt. M. Joustra. Kemudian datanglah misionaris yang lain bernama Pdt. H. Guillaume[16] tanggal 2 Mei 1899. Dia tiba di Medan yang diutus Reinische Missions Gessellschaft ke Tanah Karo dan hal pertama yang dia lakukan adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan pemerintah dan penguasa perkebunan di daerah ini. Pos Pelayanannya adalah Desa Bukum. Guillaume mengadakan pelayanan Firman, pengobatan, pendidikan dan bibit tanaman seperti jeruk, kopi dan lain-lain.

Kemudian Gereja Buluhawar ditahbiskan pada tanggal 24 Desember 1899.[17] Tahun 1899 baru 25 orang yang menjadi Kristen di desa Buluhawar, dan pada Perayaan Natal 24 Desember 1899 diadakan Kebaktian Perayaan Natal dengan bahasa Karo untuk pertama kalinya.[18] Pelayanan sudah dilakukan sesuai dengan konteks masyarakat setempat misalnya pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Pada tahun 1900 dilaksanakan Konperensi Zending pertama di Buluhawar yang dihadiri ketua Zending Dr. Gunning. Ditetapkanlah Pdt. M. Joustra bekerja dalam bidang penterjemahan Alkitab. Sementara itu Pdt. J.H. Neumann (tanggal 21 April 1900 tiba di Buluhawar) bersama Pdt. H. Guillame yang ditugaskan untuk melakukan pelayanan Ressort. Selain itu Guru Agama Martin L. Siregar tenaga utusan dari Rheinische Missions Gessellschaft (RMG) ditempatkan di desa Bukum. Sekolah juga didirikan di Pernengenen dan gurunya bernama Kelin, adalah putra daerah setempat. Rumah Sakit Zending juga didirikan di Sibolangit (1901). Ibadah pemberkatan perkawinan pertama diadakan di desa Tanjung Beringin (1902) dilayani oleh Pdt. J.H. Neumann.[19]

Pelayanan pendidikan semakin maju. Masyarakat sudah mulai menyadari arti pendidikan. Malap dan Muat mengajar di desa Tanjung Beringin dengan dibantu oleh Guru Injil Hendrik Pesik. Tahun 1903 Pdt. E.J. van den Berg tiba di Buluhawar meneruskan pelayanan Pdt. H. Guillame (habis kontraknya dengan NZG dan kembali ke Rheinische Zending). Tahun 1904 didirikan Pos Penginjilan di Durin Sirugun. Pdt. E.J. van den Berg menetap di Kabanjahe pada tanggal 10 April 1905 karena pos penginjilan sudah didirikan di Kabanjahe.[20] Pada tahun 1906 diadakan pencacahan jiwa di tanah Karo dan hasilnya didapat jumlah penduduk Karo sebanyak 70.331 orang.[21]

Aturan untuk mengangkat Pertua (Penatua) disusun oleh Pdt. J.H. Neumann pada tahun 1906 dan tahun 1907 dia menerbitkan Almanak Zending yang disebut Almanak Batak. Neumann juga menerbitkan Surat ni adat Kalak Kristenyang berisikan tentang aturan tentang batas adat dan kepercayaan animisme. Lalu tugas-tugas Penatua yang lebih banyak diatur kepada tugas pengajaran.

Kemudian lonceng gereja mulai dikenal oleh jemaat, lonceng dipasang di rumah Pdt. E.J. van den Berg karena belum ada gedung gereja di Kabanjahe.Rumah Sakit Kusta di Lau Simomo didirikan pada tanggal 25 Agustus 1906 (pasiennya berjumlah 116 orang[22]). Tahun 1907 mobil pertama yaitu mobil milik J.Th. Cremer tiba di Kabanjahe karena telah dibangun jalan raya dari medan ke Kabanjahe. Pada kesempatan ini Cremer memerikan sumbangan kepada Rumah Sakit Kusta Lau Simomo berupa dana pembangunan ruangan tempat tinggal pasien dan sebuah kamar tempat pasien dirawat.

Tenaga pendeta juga ditambah yaitu Pdt. L. Bodaan (di Buluhawar tahun 1909).[23] Injil Matius Berbahasa Karo diterbitkan (tahun 1910), Ressort dibagi tiga yaitu Ressort dusun (Karo Jahe) dipimpin Pdt. J.H. Neumann berkedudukan di Sibolangit, Ressort Kutajurung dipimpin Pdt. L. Bodaan berkedudukan di Kutajurung dan Ressort Dataran Tinggi dipimpin Pdt. E.J. van den Berg berkedudukan di Kabanjahe. Tahun 1911 Pdt. E.J. van den Berg membaptis keluarga Pa Mbelgah Purba (raja di Kabanjahe) dan tidak lama setelah itu Pa Mbelgah dikeluarkan dari gereja karena memakai Gendang Karo dalam acara-acara kemasyarakatan.

Pada tahun 1922 didirikan pos penginjilan di Langkat di Kuala Murak Bahorok. Tahun 1916 Pdt J.H. Neumann menerbitkan Kisah Para Rasul berbahasa Karo, lalu tahun 1922 menerbitkan buku Tata Bahasa Karo (Schets der Karo Batasche Spraakkunst) dan Kitab Roma berbahasa Karo. Tahun 1928, Neumann telah selesai menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru, tahun 1936 Kitab Mazmur dan tahun 1937 dia memulai pekerjaannya untuk menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama yaitu Kitab Kejadian, Ayub dan Yesaya.[24] Kamus bahasa Karo – Belanda (Karo Bataks-Nederlands Woordenboek) yang dicetak tahun 1951 adalah juga hasil pekerjaannya.[25]

Tahun 1924 didirikan sekolah Guru Agama di desa Raya (sebuah desa yang letaknya antara Berastagi dan Kabanjahe) karena sekolah-sekolah sudah membutuhkan Guru Agama Kristen. Gedung GBKP Kabanjahe juga selesai dibangun pada tanggal 12 Juli 1925. Sekolah Malam untuk putri juga didirikan di Perbesi oleh orangtua dari Tamangena Sebayang pada tanggal 8 Oktober 1925 dengan mata pelajaran : Agama Kristen dan Nyanyian Pujian, Etika Kristen Karo, Baca Tulis dan Berhitung, dipelajari juga Surat Batak. Sekolah Evangelis juga dibuka di Raya (desa di antara Berastagi dan Kabanjahe) pada tahun 1926.[26]Tahun 1926 sudah ada 1500 orang yang dibaptis. Dan tahun 1934 sudah ada 4189 orang Kristen di tengah-tengah masyarakat Karo.[27]

Pada periode ini nampak perkembangan pelayanan bukan hanya pertambahan jumlah orang Karo yang dibaptis tetapi juga pelayanan ke tengah-tengah masyarakat Karo sudah dilakukan seperti membagi 3 resort pelayanan, mendirikan Rumah Sakit Kusta dan mendirikan Sekolah Evangelis. Pendidikan untuk kaum wanita juga mulai diperhatikan (1925).

Periode ke-tiga (tahun 1940- 1950) ini disebut sebagai periode kemandirian GBKP karena pada periode ini kepemimpinan GBKP beralih dari orang Belanda kepada orang Karo. Pada tanggal 18 April 1940 diadakan pesta jubileum 50 tahun penginjilan NZG di Tanah Karo. Dan tanggal 23 Juli 1941 diadakan Sidang Sinode I GBKP di Sibolangit dan pada saat itu ditahbiskan Pendeta pertama GBKP yaitu Pdt. Th. Sibero dan Pdt. P. Sitepu. Selain Pendeta pada saat itu sudah ada 35 orang Guru Agama. Pada Sidang Sinode ini dipilih pengurus Hoofbestuur (Pengurus Sinode GBKP yang dinamai Moderamen[28]) yang pertama yang diketuai Pdt. J. van Muylwijk. Tata Gereja pertama memakai bahasa Belanda dibuat pada Sidang Sinode ini dan diberlakukan pada tanggal 1 Januari 1942. Dengan demikian terjadilah peralihan dari pelayanan NZG menjadi pelayanan gereja yang beraliran Calvinis. Pada saat itu GBKP diharapkan menjadi gereja yang mandiri.

Pada bulan Juni 1943 pemuda Karo beramai-ramai menjadi tentara Jepang yang diberi nama Giyugun atau Hei Ho. Jemaat pada saat itu hidup dalam kekurangan. Masyarakat disuruh tentara Jepang untuk menyembah Matahari setiap pagi tapi banyak masyarakat yang menolak untuk melakukannya karena bertentangan dengan iman Kristen.[29]

Pada tanggal 23 September 1943 diadakan Sidang Sinode II di Sibolangit dan terjadi peralihan kepemimpinan dari orang Belanda kepada orang Karo, GBKP dipimpin Pdt. Th. Sibero.[30] Pada periode ini Sinode GBKP sudah dibentuk dan awalnya dipimpin pendeta Belanda yang akhirnya diserahkan kepada pendeta Karo.

Jemaat menunjukkan keberaniannya menunjukkan imannya dengan menentang pemerintahan Jepang (dengan tidak mau menyembah Matahari). Pada periode ini masyarakat Karo hidup dalam kekurangan, kurang dalam bidang pendidikan dan ekonomi.

Periode ke-empat (1950-1970) disebut sebagai periode pembangunan kembali GBKP. Pada tanggal 4-5 April 1950 diadakan Sidang Sinode GBKP IV di Kabanjahe dan dalam sidang ini dibahas supaya GBKP mendirikan Sekolah Guru Agama, lalu dibicarakan pengambilalihan rumah Sakit Zending, Sidang Sinode memutuskan untuk ikut Sidang Raya DGI 21-28 Mei 1950.

Pada bulan September 1953 Anggapen Ginting Suka diutus untuk mengikuti pendidikan Theologia di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta. Ini menunjukkan bahwa GBKP mulai mempersiapkan tenaga pendeta melalui jalur pendidikan teologia. Selain itu pengurus pelayanan kaum ibu (Moria) dibentuk pada tanggal 16 Oktober 1957. Tahun 1960 dibuat aturan tentang tata cara pengangkatan Diaken dan tugas-tugas Diaken yeng lebih banyak kepada tugas pelayanan. Kemudian untuk mempersiapkan pemuda-pemudi gereja dalam hal beriman kepada Tuhan disusunlah buku pedoman Katekisasi. Pada periode ini juga disusun Tata Ibadah GBKP. Demikian juga untuk meningkatkan ekonomi jemaat dibangun proyek sapi Gelora Kasih Patumbak yang dilaksanakan pada tahun 1965 tetapi gagal karena kurang perencanaan. Pada tahun 1965 banyak diadakan baptisan massal karena masyarakat Karo takut dituduh mengikut PKI.[31]

Kemudian pada tanggal 18 April 1965 diadakan Jubileum 75 Tahun GBKP.[32] Pada saat itu anggota GBKP telah mencapai 35.000 jiwa.[33] Periode ini ditandai dengan adanya orang Karo aktif dalam Partai Nasional yang besar di Sumatera Utara. Gereja dan masyarakat Karo tetap pro-Pemerintah dan tidak ikut pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Akan tetapi pada tahun 1960-1965 orang Karo bukan hanya banyak yang menjadi anggota PNI tetapi juga anggota PKI. Oleh sebab itu pada Jubileum 75 Tahun GBKP (1965) GBKP mengeluarkan dua pernyataan yaitu mengenai kemanusiaan dan kedua menyatakan bahwa gereja bukan partai politik.[34]

Kemudian dalam Sidang Sinode 1966 diputuskan bahwa gendang Karodapat dipakai dalam acara gereja. Dalam Sidang Sinode ini diputuskan untuk memberikan kesempatan kepada majelis gereja untuk membicarakan boleh tidaknya memakai gendang Karo dalam acara-acara di gereja masing-masing. Hasilnya adalah ketidakseragaman dalam GBKP untuk memecahkan masalah ini pada saat itu. Masing-masing majelis gereja berbeda-beda tanggapannya tentang pemakaiangendang Karo.[35] Ada Majelis gereja yang mengatakan boleh memakaigendang Karo dalam ibadah GBKP dan ada yang mengatakan tidak boleh.

Periode kelima (tahun 1970 hingga 2010) disebut sebagai Masa Peningkatan Pelayanan yang berfokus pada Tri Tugas Gereja. Pada Periode ini Kursus Wanita Karo (KWK) di Berastagi diresmikan (tanggal 2 Pebruari 1971). Ini menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya hak kaum pria tetapi juga hak kaum wanita.

Sidang Sinode XXII diadakan di Kabanjahe pada tanggal 23-28 Mei 1971 dan disusun Tata Gereja yang keenam. GBKP bekerja atas tiga tingkat yaitu :

Jemaat yang dipimpin oleh Majelis Jemaat

Klasis yang dipimpin oleh Badan Pekerja Klasis

Sinode yang dipimpin oleh Moderamen

Pada saat Sidang Sinode ini, GBKP menyatakan dirinya sebagai gereja Presbiterial Synodal. Pada tahun 1971 jemaat GBKP sudah berjumlah 94.085 jiwa.

Pada tanggal 11 Nopember 1972 diadakan pembongkaran kuburan Pdt. J.K. Wijngaarden di pekuburan Kristen Jalan Pemuda Medan serta kuburan Pdt. J.H. Neumann di jalan Jamin Ginting Km. 4,5 Padang Bulan. Kemudian esok harinya tanggal 12 Nopember dilakukan penguburan ulang di Sibolangit dan kuburan ini dinamai Tanda Peringatan Pekabaran Injil Pertama ke Tanah Karo.[36]

Toko Buku GBKP diresmikan pada tanggal 19 Oktober 1983 di Kabanjahe oleh Moderamen GBKP (Pdt. Anggapen Ginting Suka). Toko buku ini didirikan untuk mendukung pekerjaan Pekabaran Injil melalui bahan bacaan. Sekitar tahun 1984 diterbitkan Alkitab berbahasa Karo oleh LAI. Selain memberitakan Injil, GBKP juga mendirikan Parpem GBKP dan (Parpem GBKP) menerima anugerah Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tanggal 6 Juni tahun 1985. Pada saat itu, Presiden mengatakan bahwa Pembangunan tidak boleh bertentangan dengan lingkungan hidup.

GBKP juga memperhatikan para penyandang cacat. Kemudian Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat (YKPC) Alpha Omega kemudian didirikan pada tanggal 21 Juli 1988. Tempat para penyandang cacat tersebut didirikan di Kabanjahe. Mereka diajari kerajinan tangan dan berladang. Ketua YKPC Alpha Omega pada saat itu Pdt. Salomo Sitepu, S.Th.

Perayaan Jubileum 100 Tahun GBKP diadakan di Taman Jubileum GBKP pada tanggal 18 April 1990 yang dihadiri + 100.000 orang. Kata sambutan disampaikan oleh Menteri Agama Munawir Sadzali, Gubsu Raja Inal Siregar dan Pdt. J.P. Sibero, M.Th. sebagai Ketua Moderamen pada saat itu. Akan tetapi tidak lama setelah Jubileum 100 tahun GBKP terjadi kemelut di GBKP. Maka diadakanlah Sidang Sinode Luar Biasa pada tanggal 23-26 Juli 1991 di Kabanjahe dan ditetapkan Pdt. E.P. Gintings menjadi Ketua Moderamen.

Untuk membantu perekonomian masyarakat didirikanlah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Pijerpodi Kekelengen yang diresmikan di Suka Makmur pada tanggal 11 Januari 1993 oleh Moderamen GBKP. Pemimpinnya pada saat itu adalah MP. Ambarita bersama 20 orang staf. Modal pertama pada saat itu sejumlah Rp. 72.000.000,-. Pada tanggal 26 Agustus 1995 diadakan Musyawarah Pelayanan Kaum Bapa (dinamai Mamre GBKP) dan tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Mamre.[37]

Kemudian pada tanggal 24 April – 1 Mei 2000 diadakan Sidang Sinode GBKP ke 32 di Retreat Center Taman Jubileum GBKP dan terpilih Pdt. Jadiaman Perangin-angin, D.Th. menjadi Ketua Umum Moderamen. Pada Sidang Sinode ke 32 ini GBKP memutuskan untuk mempelajari kembali apa dan bagaimana sebenarnya gereja yang beraliran Calvinis untuk dipraktekkan dalam GBKP.

Kemudian Sidang Sinode ke 33 diadakan pada tanggal 10-17 April 2005 di Retreat Center Sukamakmur dan ketua Moderamen terpilih kembali Pdt Jadiaman Perangin-angin, D.Th. dan pada Sidang Sinode tersebut ditetapkan Visi GBKP yaitu :

Meningkatkan peribadatan / spiritualitas

Menghargai kemanusiaan.

Melakukan keadilan, kebenaran, kejujuran dan kasih.

Mewujudkan warga yang dapat dipercaya.

Meningkatkan perekonomian jemaat.

Juga ditetapkan prioritas program, yaitu :

Tahun 2006 sebagai tahun Sumber Daya Manusia.

Tahun 2007 sebagai tahun Koinonia.

Tahun 2008 sebagai tahun Marturia.

Tahun 2009 sebagai tahun Diakonia.

Tahun 2010 sebagai tahun Kemandirian Dana.

Pada periode ini (2005-2010), Sinode GBKP sudah terdiri dari 32 Unit Penunjang dan 20 Klasis. Persekutuan jemaat (perpulungen) dilayani oleh pendeta, pertua dan diaken. Sesuai dengan keputusan Sidang Sinode dibentuk Pengurus Perpulungen Jabu-Jabu (Pengurus Sektor Persekutuan Keluarga). Tahun 2007 didirikan sekolah pendidikan theologia untuk sarjana non theologia agar dapat dijadikan pendeta di GBKP. Sekolah ini hanya berjalan selama 3 tahun dan kemudian ditutup.

Pada periode ini gereja mulai mencari jati dirinya (aliran Calvinis). Selain itu struktur pengurus Sinode, Klasis dan Majelis jemaat berubah (keputusan Sidang Sinode tahun 2005), yang selama ini bentuknya : ketua, wakil ketua, sekretaris, wakil sekretaris dan seterusnya; berubah menjadi ketua, ketua bidang kesaksian, ketua bidang persekutuan, ketua bidang diakonia, dstnya. Dengan demikian tugas Ketua Umum Moderamen adalah memperhatikan dan melaksanakan Tri Tugas Panggilan Gereja dengan bekerjasama dengan Ketua Bidang masing-masing. Visi dan misi GBKP juga semakin diperjelas agar tidak kehilangan arah tujuan gereja setiap periodenya. Tahun 2010, anggota GBKP berjumlah ± 290.000 orang.[38] Ini berarti pertambahan anggota GBKP setiap tahunnya sekitar 2.416 orang, jika dihitung mulai tahun 1890 (masuknya misionaris NZG ke Buluhawar/ Tanah Karo).

Refrensi

[1] NZG didirikan pada 19 Nopember 1797 oleh orang-orang Kristen Belanda anggota gereja Hervormd yang dipengaruhi oleh semangat pietisme Bnd. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, Jakarta : BPK-GM, 2006, hlm. 300

[2] SC Graaf van Randwijck, Oegstgeest, Jakarta : BPK-GM, 1989, hlm. 561

[3] Pdt. H.C.Kruyt lahir pada tahun 1862 di Semarang, ia adalah putera Pdt. Jan Kruyt seorang penginjil ternama di Jawa Timur. Kelima saudaranya juga menjadi penginjil atau menikah dengan penginjil. Salah seorang saudaranya bernama Pdt. Albert Kruyt, terkenal dengan ide penginjilan melalui pendekatan sosiologis. Pada usia 11 tahun ia memasuki sekolah Misi NZG di Rotterdam. Pada tahun 1884 dalam umur 22 tahun ia lulus dan segera ditempatkan di Tomohon Sulawesi Utara. Pada bulan April 1889, H.C. Kruyt ditugaskan memberitakan Injil kepada masyarakat Karo di Sumatera Utara. Ia ditemani N. Pontoh seorang pemuda Minahasa yang selama ini membantu mereka di Tomohon. Bnd. P. Sinuraya, Op.Cit., Diakonia GBKP Jilid 6, hlm. 26-27

[4] H.C.Kruyt, ”Berichten van Br. H.C. Kruijt, te Bulo-Haur”, dalam :Maanbericht van het Nederlandsche Zendeling Genootcchap, Dagboeken, Verslagen en Brieven uit de Zending, diterjemahkan oleh : Elisabeth Br. Meliala & Magdalena Broun Br. Pelawi, Medan: stensilan, t.th., hlm. 43-44.

[5] P. Sinuraya, Cuplikan Sejarah Penginjilan kepada Masyarakat Karo, Medan: Berkat Jaya, 2002, hlm.4

[6] Ibid., hlm.7

[7] Jan Kornelis Wijngaarden lahir pada tanggal 14 Agustus 1865 di Steins, Provinsi Frieshland, Negeri Belanda. Ia didorong oleh Pdt. Brugsma untuk memasuki sekolah Missionaris di Rotterdam. Setelah enam tahun belajar di sekolah missionaris, dia ditahbiskan menjadi Pendeta dan ditempatkan di Pulau Sawu, Indonesia. Tahun 1892, Kantor Pusat NZG di Rotterdam memutuskan dia pindah ke Tanah Karo. Ia meninggal tanggal 21 September 1894 di Medan. Bnd. P Sinuraya, Op.Cit., Diakonia GBKP Jilid 6, hlm. 42-43

[8] J.K. Wijngaarden, ”Uit het laats door ons ontvangen schrijven van Br.Wijngaarden”, dalam : Maandbericht van het Nederlandsche Zendeling Genootschap, diterjemahkan oleh : Magdalena Broun Br. Pelawi, Medan: stensilan, t.th., hlm.181-183.

[9] Ibid., hlm. 181-183

[10] Ibid., hlm. 194

[11] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm.10

[12] Rita Smith Kipp, Op.Cit., hlm. 112

[13] Pdt. M. Joustra berasal dari kota Bolswad daerah Frieshland, ia adalah putra seorang tukang tembaga. Pada usia 15 tahun dia masuk sekolah missionaris di Rotterdam. Ia pernah diskors sebagai siswa sekolah missionaris karena dia lebih menyenangi gerakan pembaharuan teologia modern. Atas bimbingan Pdt. Van der Meulen dan direktur NZG akhirnya dia dikukuhkan menjadi pendeta. Bnd. P. Sinuraya, Op.Cit., Diakonia GBKP Jilid 6, hlm. 68-69

[14] S.C. Graaf van Randwijck, Op.Cit., hlm. 562

[15] P. Sinuraya, Op.Cit., Diakonia GBKP Jilid 6, hlm. 65

[16] Pdt. H. Guillaume lahir pada tahun 1865 di Vlissingen. Ia pernah menjadi militer dengan pangkat Sersan. Dia keluar dari militer karena melihat temannya cedera dan meninggal dunia pada suatu peristiwa. Dia masuk sekolah Missionaris di Jerman yaitu Rheinische Missions Gesellschaft (RMG). Setelah menyelesaikan pendidikan dia ditempatkan di Sibolga tahun 1893. Pada tahun1899 dia diutus ke Tanah Karo. Bnd. P. Sinuraya, Ibid., hlm. 81.

[17] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm. 15

[18] Ulrich Beyer, Und Viele Wurden Hinzugetan, Verlag UEM Wuppertal, diterjemahkan oleh : Matius Panji Barus, 1982, hlm. 22-23

[19] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm.17-18

[20] Ibid., hlm., 19-22

[21] Bataksch Instituut, Omzendbrief en Statuten, Elisabeth Br. Meliala (Pent.), Medan: stensilan, t.th., hlm. 6.

[22] Paul Bodholdt Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan, Jakarta: BPK-GM, 1975, hlm.130

[23] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm.26

[24] Ibid., hlm. 27-40

[25] J.L. Swellengrebel, Mengikuti Jejak Laidjdecker, Jilid 2, Jakarta : LAI, 2006, hlm. 338

[26] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm. 42-46

[27] Paul Bodholdt Pedersen, Op.Cit., hlm.133

[28] Moderamen adalah orang-orang yang terpilih menjadi pimpinan persidangan (Moderator). GBKP menyamakan arti Sinode dengan Moderamen Bnd. Tata Gereja GBKP Tahun 2005-2015, Kabanjahe: Abdi Karya, 2005, hlm. 24

[29] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm. 98-103

[30] Ibid., hlm. 104-166

[31] F.L. Cooley, Op.Cit., hlm.109

[32] P. Sinuraya, Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm. 104-166

[33] Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh XII, Semarang: Perc. Satya Wacana, 1976, hlm.39

[34] F.L. Cooley, Op.Cit., Benih Yang Tumbuh 4, hlm.131

[35] Ibid., hlm.130

[36] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm. 172

[37] P. Sinuraya, Op.Cit., Cuplikan Sejarah Penginjilan Kepada Masyarakat Karo, hlm 165-238.

[38] Moderamen GBKP, Laporan Umum Moderamen GBKP ke Sidang Sinode di Sukamakmur 11-18 April 2010, hlm. 5
Artikel Terkait

1 komentar:

Malu bertanya sesat di jalan, Akhirnya jalan - jalan deh :D